Kali ini Saya akan membahas rumah khas suku Banjar, yaitu Rumah Bubungan Tinggi.
Suku Banjar merupakan suku bangsa yang menempati wilayah Kalimantan Selatan, serta sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur. Populasi Suku Banjar dengan jumlah besar juga dapat ditemui di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Utara dan Semenanjung Malaysia karena migrasi Orang Banjar pada abad ke-19 ke Kepulauan Melayu.
Masyarakat Banjar merupakan masyarakat yang terjadi dari pencampuran suku Dayak, Jawa, Melayu, dan Bugis yang mendiami wilayah Kalimantan Selatan. Mayoritasnya kebanyakan masyarakat Banjar memeluk agama Islam. Tentang pengaruh yang ditimbulkan agama Islam pada interior rumah Bubungan Tinggi, di desa Telok Selong kecamatan Martapura Kalimantan Selatan. Interior yang diteliti meliputi organisasi ruang, elemen pembentuk ruang, dan elemen dekoratif. Karena obyek penelitian sudah ditentukan maka digunakan bentuk penelitian terpancang dengan studi kasus tunggal. Agama Islam sebagai sistem religi yang merupakan salah satu unsur kebudayaan, tercermin pada interior rumah Bubungan Tinggi yang merupakan salah satu bentuk dari wujud kebudayaan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa memang terdapat pengaruh Islam pada rumah Bubungan Tinggi.
Rumah Bubungan Tinggi atau Rumah Ba-Bubungan Tinggi sedniri adalah salah satu jenis rumah Baanjung yaitu rumah tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan dan bisa dibilang merupakan ikonnya Rumah Banjar karena jenis rumah inilah yang paling terkenal karena menjadi maskot rumah adat khas provinsi Kalimantan Selatan. Di dalam kompleks keraton Banjar dahulu kala bangunan rumah Bubungan Tinggi merupakan pusat atau sentral dari keraton yang menjadi istana kediaman raja (bahasa Jawa: kedhaton) yang disebut Dalam Sirap (bahasa Jawa: ndalem) yang dahulu tepat di depan rumah tersebut dibangun sebuah Balai Seba pada tahaun 1780 pada masa pemerintahan Panembahan Batuah.
Rumah Bubungan Tinggi mirip Rumah tardisonal Betawi yang disebut Rumah Bapang, namun pada Rumah Bubungan Tinggi dibangun dengan konstruksi panggung dan memiliki anjung pada kiri dan kanan bangunannya.
Menurut Tim Depdikbud Kalimantan Selatan, rumah Bubungan Tinggi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Atap sindang Langit tanpa plafon
- Tangga naik selalu ganjil
- Pamedangan diberi Lapangan kelilingnya dengan Kandang Rasi berukir
Dari segi fisik, bentuk bangunan Rumah Bubungan Tinggi diibaratkan tubuh manusia yang terdiri dari 3 bagian. Secara vertikal, rumah adat yang berbentuk rumah panggung ini terdiri dari kolong rumah (bawah) yang melambangkan kaki, badan rumah (tengah) yang melambangkan badan, dan atap rumah (atas) yang melambangkan melambangkan kepala. Secara horizantal, anjungan yang berada di sisi kanan dan kiri melambangkan tangan kanan dan kiri.
Sedangkan dari segi filosofi, bentuk rumah melambangkan perpaduan antara dunia atas dan bawah, sedangkan penghuninya berada di antara kedua dunia tersebut. Filosofi ini lahir dari kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta terdiri dari dua bagian yaitu alam atas dan bawah. Wujud filosofi ini terlihat pada ornamen-ornamen rumah adat Banjar seperti ukiran burung enggang sebagai lambang dunia atas, dan ukiran naga sebagai lambang dunia bawah.
Bagian Konstruksi Pokok
Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu :
1. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk.
2. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut Anjung.
3. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi.
4. Bubungan atap sengkuap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit.
5. Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan.
Tubuh bangunan induk yaang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang
berjenjang lantainya.
Gambar di atas merupakan gambaran pola umum denah rumah Bubungan Tinggi
Ruangan
Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :
- Palatar (pendopo atau teras), ruangan depan yang merupakan ruangan rumah yang pertama setelah menaiki tangga masuk. Ukuran luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter. Palatar disebut juga Pamedangan.
- Pacira, yaitu ruang antara (transisi) yang terbagi dua bagian yaitu pacira dalam dan pacira luar. Pacira Dalam berfungsi untuk menyimpan alat pertanian, menangkap ikan dan pertukangan. Kedua pacira ini hanya dibedakan oleh posisinya saja. Pacira Luar tepat berada di muka pintu depan (Lawang Hadapan).
- Panampik Kacil, yaitu ruang tamu muka merupakan ruangan yang agak kecil setelah masuk melalui Lawang Hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan. Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.
- Panampik Tangah yaitu ruang tamu tengah merupakan ruangan yang lebih luas dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang lantai ini disebut Watun Jajakan.
- Panampik Basar atau Ambin Sayup, yaitu ruang tamu utama merupakan ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas ruangan 7 x 5 meter.
- Palidangan atau Ambin Dalam, yaitu ruang bagian dalam rumah yang berbatas dengan panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi dengan lantai panampik basar (tapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai panampik basar lebih rendah dari lantai palidangan). Karena dasar kedua pintu yang ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai maka watun di sini disebut Watun Langkahan. Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.
- Panampik Dalam atau Panampik Bawah, yaitu ruangan dalam yang cukup luas dengan permukaan lantai lebih rendah daripada lantai palidangan dan sama tingginya dengan permukaan lantai panampik tangah. Ambang lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan. Luas ruang 7 x 5 meter.
- Padapuran atau Padu, yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan. Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.
galeri
Rumah Bubungan Tinggi di Tarangan.
Litografi Rumah Adat Banjar Tipe Rumah Bubungan di Banjarmasin





